Tegukkan Kopi, dan Cerita, Bagian 2: Matahari dan si Pecinta Diam-Diam

Sesekali berjalanlah denganku di sore yang manja... 
Melihat cakra lengkung alam yang dibentang.... 
Tidak ada yang kalah, sore itu semua meraja.. 
Hanya selarasnya, aku yang meradang.. 
    

     Semesta itu luas. Kota pasti asalnya dari Negara. Negara asalnya pasti dari Regional. Regional kalo diperluas jadi Multi-Regional, dibentang lagi jadi Internasional, secara geogrrafis jadi mengglobal, terbentuklah sebuah tatanan Dunia yang berdiri dengan kokoh di atas Bumi. Bumi kita ini planet kecil jika dibandingkan dengan Jupiter, Saturnus, Uranus, atau Neptunus. Planet-planet ini beredar di porosnya masing-masing, mengitari Matahari si Bintang. Bintang bukan hanya matahari, ada jutaan bintang yang ada di Galaksi Bima Sakti. Masalahnya, Bima Sakti bukan satu-satunya Galaksi yang ada di dunia, ada juga yang lainnya. Lebih parah lagi, diperkirakan ada jutaan Galaksi. Jadi intinya, kalo gua jalan dari rumah ke Indomaret aja mager, apalagi kalo beli kopi di Jupiter. Mager anying, jauh. Semesta luas. 

     Kalo semesta sebegitu luasnya, berarti gua, nenek lu, dan kakek lu, cuman remah-remahnya. Tapi beberapa hal, untuk gua ada yang lebih  luas dari semesta. Kayak misalnya, kamu

     Di antara sekian banyaknya benda langit, ada satu benda langit yang untuk kita-manusia-merupakan benda langit yang terpenting. Matahari. Matahari adalah bintang dari Tata Surya kita. Dia adalah poros yang wajib dikelilingi oleh Bumi, Venus, Merkurius, Mars, Jupiter, Saturnus, Uranus, dan Neptunus. Dia lah yang menyinari masing-masing planet yang mengitari porosnya, dan menjadi sumber dari keunikan masing-masing planet. 

     Matahari selalu membantu kita dalam kehidupan sehari-hari. Membantu tani dalam menyinari padi. Membantu menerangi siang. Membantu menikmati dan bahkan melengkapi Bumi. Namun sayangnya, ia menghilang saat malam. 

    Dalam mitologi Jepang, Amaterasu-Dewa Matahari-tidak mau menemui adiknya, yaitu Tsukuyomi-Dewa Bulan-karena suatu saat, Tsukuyomi yang datang ke Bumi membunuh Dewa Makanan, dan Amaterasu murka karena itu. Karena Amaterasu dan Tsukuyomi tidak pernah mau bertemu, maka terjadilah siang, dan malam. Sedangkan dalam mitologi Mesir, Ra-Dewa Matahari-merupakan dewa yang pertama ada saat penciptaan alam semesta. Setelah Ra muncul, barulah dewa-dewa yang lain muncul. 

    Faktanya, walaupun banyak sekali mitologi dan teori yang berusaha menjelaskan teori terbentuknya Matahari, Bumi, dan bahkan siang-malam, Matahari adalah hal yang vital bagi Bumi kita. Bahkan dalam beberapa mitologi, seperti mitologi Jepang, Matahari disebut sebagai pelindung bumi. Faktanya adalah, ya. Matahari melindungi bumi. 

     Sekarang, baca lagi beberapa paragraf diatas. Gua meninggalkan satu kesalahan yang sangat umum. 

    

     Matahari membantu menerangi siang. Gua sangat salah menulis tulisan ini, dan begitu juga orang-orang lain yang masih menulis hal ini, atau berfikir sesempit ini.  

     Matahari tidak hanya menerangi siang. Ia juga menerangi malam, walaupun dengan ragu dan malu. Ia memantulkan sinarnya lewat Bulan. Tanpa adanya sinar matahari yang memantul, kita tidak akan pernah tau kalau di atas kepala kita ada Bulan, dan pastinya malam kita pasti akan lebih gelap sekaligus dingin. Fakta ini tidak pernah diketahui orang-orang zaman dahulu, tidak pernah diungkap dalam mitologi-mitologi manapun kalau ternyata Bulan itu mati, Matahari lah yang menghidupinya. Sampai akhirnya baru diketahui saat Ilmu Astronomi Modern muncul ke permukaan. 


Matahari dan si Pecinta Diam-Diam
     Matahari selalu diam-diam menjaga bumi. Menerangi manusia saat berdagang, berlayar, mendaki, dan bahkan mencinta satu sama lain. Tetapi jika sekali saja ia terlalu panas, manusia yang ia terangi akan mengeluh, dan lama-kelamaan ia akan sadar dan mendinginkan bumi manusia saat malam. 

     Begitu juga Pecinta Diam-Diam. Secara diam-diam memperhatikan, menjaga, dan mengagumi. Sebisa mungkin diberikan apa yang bisa diberikan. Tidak ingin terlalu dekat, layaknya matahari yang tidak ingin terlalu panas untuk Bumi Manusia, karena takut menyakiti. Terkadang terjatuh, dikalahkan yang jauh. 

      Matahari itu terang, dan bercahaya. Tetapi memang dasarnya kita yang tidak tau diri. Malah keluar malam hari dan melihat Bintang lain. Bintang yang nun jauh dimana, tidak kita kenal, diam-diam menerangi buminya sendiri, dan muungkin sudah mati jutaan tahun yang lalu, namun cahayanya saja yang baru sampai di bumi. Matahari tidak dicintai, padahal ia mencintai.

     Begitu pula si Pecinta Diam-Diam yang terkadang terjatuh, dikalahkan yang jauh. Dia sekuat tenaga melakukan apa yang dia bisa. Kadang si Pecinta dekat dengan si Pujaan, kadang jauh, kadang tidak kenal sama sekali. Tetapi tetap saja pada akhirnya si Pecinta kalah dengan yang Bintang yang jauh di ufuk mata. Si Pecinta tidak dicintai, padahal ia mencintai. 


     
     
Aurora Pelangi 

Sekali waktu, aku jatuh... 
Jauh.. dalam ketidakpastianmu... 
Sedari awal, kukira.. 
Memang begini pasti ujungnya.. 

Kau yang berwarna, 
Mengiring duka luka semesta.. 
Sedang aku? Diam. Mengalun hening. 
Disembunyikan sepi. 
21.57         07052017




Filsafah Matahari

Saat itu apa kau sudah lupa yang kau kata?
Kau meminta aku belajar tentang semesta.. 
Tentang rasi yang menunjukkan utara.. 
Serta matahari yang membara.. 

Sekarang aku mengerti sedikit.. 
Tentang matahari yang menyimpan sakit.. 
Sinarnya dilewat begitu saja... 
Oleh mereka, yang hidup saat bintang malam mengeja.. 
     19.12        12082017